News Update

Hari-Hari Terakhir Sukarno




Essay : Hari-Hari Terakhir Bung Karno

Oleh Anton Djakarta


Dalam mimpi yang pudar jaman tak akan bergetar seperti dulu ketika aku masih memimpin revolusi yang gelegar. Aku disini sebagai orang yang lunglai dan tak tahu apa-apa mengenai dunia, dunia yang pernah membesarkanku ..... lalu lelaki gemuk tua itu berdiri. Kaos singletnya basah oleh keringatnya yang mengalir deras.

Wajahnya membengkak, dan bibir yang dulu paling dikenal dalam sejarah merdekanya Indonesia, kini menjadi paruh betet yang tak lagi menarik, hidungnya sebesar tomat dan hidung tomat itu bukan lagi hidung tomat yang membuat takut kaum imperialis, hidung itu tak lebih dari tomat yang bolong-bolong.

Si bung itu duduk kembali dan matanya basah.

Matahari masih sembunyi dalam alam jingga, dulu ia bisa mengesankan pagi yang indah dengan serbuan kata-kata. Kini dia hanya diam kata-kata tak lagi berteman. “Bapak segera mandi!” bentak seorang tentara. Dia hanya menoleh. Lalu berdiri dan menurut perintah tentara. Jalannya lunglai, dan ginjalnya tak lagi normal. Seorang pemimpin besar yang dulu pernah menaklukkan dengan telunjuk mengacung-acung dan seribu batalyon bisa membakar jiwa revolusi, kini hanya seonggok daging tua yang tak memiliki nyali.

“Aku tak ada apa-apa, tapi aku adalah bangsa itu sendiri” gumam lelaki tua bertubuh gemetar. Ia berjalan pelan terseok-seok di sebuah ruangan besar yang kotor, membawa handuk dan perlengkapan mandi. Seorang yang dulu begitu rupawan menggoda jutaan wanita dan menginspirasi jutaan pemuda memindahkan gunung dan membakar samodera. Memerintah puluhan Jenderal dan dipuja ratusan juta rakyatnya. Ia adalah dewa, tapi kini tak lebih bandit yang dilabur hitam dalam sejarah.

“Dunia ini seperti nasib yang berputar-putar, kita dipaksa bermain dadu.... tapi kita juga dipaksa memerahkan dadu sehingga dadu tak lagi berupa apa-apa” ia terus berjalan menuju kamar mandi. Dunia ini mimpi dan mimpi tak pernah mengubah sejarah.

Deburan air menghantam gayung, tubuh tua gemuknya tak lagi kuat menahan dingin, sementara air hangat sudah kosong. Ia tak boleh manja. Dalam sakitnya yang parah, dia tahu dia akan dibunuh oleh penyakitnya pelan-pelan. Dia tak boleh manja apalagi meminta sedikit pil untuk jaga ginjal, ia tahu yang ia tenggak hanyalah plasebo murahan, tapi ia tak boleh manja karena dirinya toh sudah hancur agar karyanya tak bisa dipecah-pecah oleh Amerika........ Ia tak boleh manja.

Hitam sudah cakrawala pagi, tak ada lagi Cakrabirawa, tak ada lagi orkes Asal Bapak Senang, yang ada hanya pagi sunyi. Dan Bapak sudah mau pergi.

Bulan Juni ini aku lahir dan mimpi terus menerus memerkosa sejarah, aku ndak paham mimpi apa yang berlangsung bagi negeriku, mimpi apa yang sedang dimainkan para Jenderal-Jenderalku, aku tak paham dan tak tahu, tapi aku bukan siapa-siapa. Mimpi tak lagi punya cakrawala. Dan bangsaku tak lagi punya mimpiku .....

Lelaki tua gemuk dengan wajah bengkak keluar dari kamar mandi. Kepalanya botak dan matanya tak lagi setajam elang banten yang menguasai hutan revolusi. Lelaki tua botak itu hanya meringis pelan sembari mencoba tersenyum pada seorang tentara yang bukan lagi menjaganya tapi menahannya. Tentara itu tidak tersenyum. Tentara itu tahu bahwa Bapak bukan lagi orang yang ia puja, tapi seorang tahanan. Si Bung Besar itu berjalan dan ginjalnya tak lagi mampu meremas-remas aliran energi didalam tubuhnya.

Aku lemah.

Aku tak tahu, apakah aku lemah...apakah aku kuat. Aku tak tahu....aku hanya diam .... diam dan diam.... tiba-tiba aku berada pada lorong yang gelap. Matahari pagi tadi tak lagi sunyi, ia menjadi warna ceria, pagi sudah menjadi baskom yang menyenangkan.

Ia seperti ada di Endeh, pada surga perak yang tumbuh dibawah pohon Kenari, ia berjalan pelan. Dia tertawa dan suaranya yang terkenal menggelegar. Tiba-tiba datang Tjokro. Dia heran, Pak Tjok datang. “Kusno, ikutlah bersamaku” Sapa Tjokro dengan tangan menjulur. Ia melihat banyak orang dibelakang Tjokro .... Alimin, Muso, Tan Malaka, Thamrin, Dharsono, Amir, Haji Misbah. Ia lihat ibunya, ia lihat bapaknya, ia lihat kakeknya dan ia juga kaget saat lihat DN Aidit.Tapi ia hanya bisa diam. Saat Tjokro memegang tangannya, Thamrin menghampiri... Bung Ikutlah bersama kami.

Dan pagi hanya punya diam. Ia diam sampai seseorang membangunkannya. “No...No.... bagaimana keadaanmu, No?” Hatta memegang tangan Bung Karno. Dan matanya basah. “No...no...”Hatta memanggil sekali lagi. Ia ingat kawannya ini, ia ingat pribadinya yang hangat, yang menyenangkan yang suka tertawa dan doyan sekali bergurau. Ia ingat kebaikan hatinya kawannya ini yang menggoda Hatta untuk segera menikah. Ia ingat semua mimpi-mimpi lelaki yang banyak ulah ini, ia ingat semuanya. Dan mata Hatta berubah menjadi sungai air mata. “No...No” kata Hatta lagi.

Thamrin melepaskan tangannya, ia tahu akan menjemput sahabatnya di waktu yang sudah tentu. Tjokro tersenyum dan mengusap-usap mata lelaki itu. “Kusno, aku jemput nanti, lihatlah sahabatmu datang....” Kusno tercekat. Ia bangun lagi. “Hatta.... Hoe gaat het met Jou?” bahu Hatta lemas, ia tak tahan melihat penderitaan Sukarno. Ia meradang tapi seperti ia biasa ia mempu menghantam kemarahannya. Hatta hanya menangis.

Dan beberapa hari kemudian lelaki itu meninggal. Rakyat secara implisit dilarang untuk melihat, tapi rakyat tahu bahwa orang itu yang memerdekakan bangsanya. Rakyat tahu dan jutaan rakyat berjajar lalu....21 Juni 1970 Semua orang Indonesia berhati hampa.


Jakarta, 5 Juni 2009


Menjelang Ulang Tahun Bung Karno.

Sukarno dan Irian Barat




Pada satu pagi di Bulan November 1959 Sukarno membaca laporan sebuah riset lama karya Juan Jacques Dozy yang merupakan referensi dari perpustakaan Belanda. Lalu ia mendengar adanya sebuah sinyalemen gerakan bisnis dari pengusaha Amerika Serikat Forbes Wilson yang akan mengeksplorasi Irian Barat. Sebenarnya masalah Papua Barat ini menjadi ganjalan pikiran Sukarno, karena ia merasa negaranya sudah terkepung dimana-mana, menurut analisa geopolitiknya : di utara Indonesia masih bercokol Inggris dengan Malaya dan di timur masih bercokol Belanda di Papua Barat. Ia belajar dari sejarah, pertemuan antara Inggris dan Belanda akan menjadi bentuk Kolonialisme, dan pertemuan mereka itu jelas akan mengepung pulau-pulau inti Nusantara. Lalu ketika ia mendengar bahwa pengusaha-pengusaha Amerika Serikat berminat terhadap masalah Papua Barat dan menemukan sumber cadangan raksasa di Papua Barat, insting geopolitik Sukarno bergerak cepat. Masalah Papua Barat jika didiamkan akan menjadikan Indonesia masuk ke dalam jurang penjajahan baru, yaitu tereksploitasinya Sumber Daya Alam.

Sementara di sisi lain, Bisnis bergerak cepat. Forbes Wilson pada 1 Februari 1960 melalui Freeport Sulphur dan East Burneo Company membuat kontrak kerjasama eksplorasi biji tembaga di Papua Barat. Selama beberapa bulan Wilson menjelajah kawasan Erstberg. Wilson terperancat menyaksikan kekayaan biji tembaga yang terhampar luas di permukaan tanah.

“Inilah keajaiban yang sulit ditemukan di manapun,” tulis Wilson di The Conquest of Cooper Mountain. “Sekitar 40 sampai 50 persen biji besi dan 3 persen tambang serta masih terdapat perak dan emas. Angka tiga persen itu saja sudah cukup menguntungkan bagi industri tambang. Tiga belas juta ton biji tembaga di permukaan tanah dengan kedalaman 100 meter. Jika untuk memproses 5.000 ton biji tembaga/hari dibutuhkan investasi 60 juta dollar AS, dengan rincian biaya produksi 16 sen dollar/poin.

Sementara harga jual 35 sen/poin, maka dalam tiga tahun saja inventasi itu sudah lunas,” tulis Wilson di The Conqust of Cooper Mountain. Deposit tembaga lebih besar bukan hanya Erstberg tetapi juga Gressberg. Freeport menyebut di areal Gressberg ini tersimpan cadangan tembaga sebesar 40,3 milyar pon dan emas 52, 1 juta ons. Doposit ini mempunyai nilai jual 77 milyar dollar As dan hingga 45 tahun ke depan masih menguntungkan.

Namun Freeport mengurungkan niatnya segera mengeksploitasi Erstberg. Sementara itu, hubungan Indonesia dan Belanda (yang lebih dulu menguasai Papua Barat) itu sangat genting dan mendekati perang terbuka. Pada tahun 1961 presiden AS John F Kennedy mengutus Ellsworth Bunker sebagai negosiator untuk menekan Belanda dan mengelabui PBB untuk Papua masuk ke dalam Indonesia.
Lalu Sukarno pada 19 Desember 1961 ditengah hujan deras yang mengguyur kota Yogyakarta mengumumkan rencana serangan militer untuk menguasai Papua Barat. Ia sebut Operasi itu adalah Trikora. Kemudian setelah pidato yang membakar semangat rakyat, ia kembali ke Jakarta dan memanggil Jenderal Nasution untuk menyelesaikan semua tahapan perang. Di ruang kerjanya Nasution rapat dengan staf-nya.

Akhirnya diputuskan Indonesia harus mendapat suplai senjata baru. Nasution menghubungi kontak-kontak penjualan senjata di Amerika Serikat, namun AS menolak membantu. Dinas Intelijen AS menilai, bila Indonesia berperang dengan Belanda maka Papua Barat akan jatuh ke tangan Indonesia ataupun bila Belanda berhasil mempertahankannya maka legitimasi dunia Internasional akan sah jatuh ke tangan Belanda. Diam-diam AS ingin menguasai Papua Barat melihat potensi sumber daya alamnya yang begitu luar biasa.

Pada bulan Desember 1960, Jendral Nasution pergi ke Moskwa, Uni Soviet, dan akhirnya berhasil mengadakan perjanjian jual-beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet senilai 2,5 miliar dollar Amerika dengan persyaratan pembayaran jangka panjang. Setelah pembelian ini, TNI mengklaim bahwa Indonesia memiliki angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan. Amerika Serikat tidak mendukung penyerahan Papua bagian barat ke Indonesia karena Bureau of European Affairs di Washington, DC menganggap hal ini akan "menggantikan penjajahan oleh kulit putih dengan penjajahan oleh kulit coklat". Tapi pada bulan April 1961, Robert Komer dan McGeorge Bundy mulai mempersiapkan rencana agar PBB memberi kesan bahwa penyerahan kepada Indonesia terjadi secara legal. Walaupun ragu, presiden John F. Kennedy akhirnya mendukung hal ini karena iklim Perang Dingin saat itu dan kekhawatiran bahwa Indonesia akan meminta pertolongan pihak komunis Soviet bila tidak mendapat dukungan AS.

Indonesia membeli berbagai macam peralatan militer, antara lain 41 Helikopter MI-4 (angkutan ringan), 9 Helikopter MI-6 (angkutan berat), 30 pesawat jet MiG-15, 49 pesawat buru sergap MiG-17, 10 pesawat buru sergap MiG-19, 20 pesawat pemburu supersonik MiG-21, 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan korvet, dan 1 buah Kapal penjelajah kelas Sverdlov (yang diberi nama sesuai dengan wilayah target operasi, yaitu KRI Irian). Dari jenis pesawat pengebom, terdapat sejumlah 22 pesawat pembom ringan Ilyushin Il-28, 14 pesawat pembom jarak jauh TU-16, dan 12 pesawat TU-16 versi maritim yang dilengkapi dengan persenjataan peluru kendali anti kapal (rudal) air to surface jenis AS-1 Kennel. Sementara dari jenis pesawat angkut terdapat 26 pesawat angkut ringan jenis IL-14 dan AQvia-14, 6 pesawat angkut berat jenis Antonov An-12B buatan Uni Soviet dan 10 pesawat angkut berat jenis C-130 Hercules buatan Amerika Serikat.

Akhirnya Papua Barat bisa direbut, dengan sumber daya alam yang amat kaya itu Sukarno bermimpi akan membangun bangsanya menjadi bangsa terkuat di Asia. Dengan politik regionalnya ingin menguasai Asia Tenggara, dengan menguasai Asia Tenggara semua jalur dagang dan jalur ekonomi akan dikuasai Indonesia. Program ekonomi Sukarno adalah menguasai kekayaan alam dahulu setelah itu menyalurkannya untuk kesejahteraan umum.

Di bawah Sukarno Indonesia berpotensi menjadi Negara terkaya nomor empat sedunia. Tapi sejarah berkata lain, dan kini terus bermunculan agen-agen asing yang terus menghembus-hembuskan argument untuk memusuhi Pemikiran dan Jalan Politik Sukarno yang tujuan mereka hanya satu : Penguasaan Sumber Daya Alam jatuh ke asing dan tidak adanya saluran untuk kesejahteraan umum.

Pidato Bung Karno Menemukan Jiwa Revolusi Kita




Saja berdiri dihadapan saudara-saudara, dan berbitjara kepada saudara-saudara diseluruh tanah-air, bahkan djuga kepada saudara-saudara bangsa Indonesia jang berada diluar tanah-air, untuk bersama-sama dengan saudara-saudara memperingati, merajakan, mengagungkan, mengtjamkan Proklamasi kita jang keramat itu.

Dengan tegas saja katakan "mengtjamkan". Sebab, hari ulang-tahun ke-empatbelas daripada Proklamasi kita itu harus benar-benar membuka halaman baru dalam sedjarah Revolusi kita, halaman baru dalam sedjarah Perdjoangan Nasional kita.

1959 menduduki tempat jang istimewa dalam sedjarah Revolusi kita itu. Tempat jang unik! Ada tahun jang saya namakan "tahun ketentuan", - a year of decision. Ada tahun jang saja sebut "tahun tantangan", - a year of challenge. Istimewa tahun jang lalu saja namakan "tahun tantangan. Tetapi buat tahun 1959 saja akan beri sebutan lain. Tahun 1959 adalah tahun dalam mana kita, - sesudah pengalaman pahit hampir sepuluh tahun- , kembali kepada Undang-Undang-Dasar 1945, - Undang-Undang-Dasar Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun dalam mana kita kembali kepada djiwa Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun penemuan kembali Revolusi. Tahun 1959 adalah tahun "Rediscovery of our Revolution".

Oleh karena itulah maka tahun 1959 menduduki tempat jang istimewa dalam sedjarah Perdjoangan Nasional kita, satu tempat jang unik!

Seringkali telah saja djelaskan tentang tingkatan-tingkatan Revolusi kita ini.

1945 - 1950. Tingkatan physical Revolution. Dalam tingkatan ini kita merebut dan mempertahankan apa jang kita rebut itu, jaitu kekuasaan, dari tangannja fihak imperialis, kedalam tangan kita sendiri. Kita merebut dan mempertahankan kekuasaan itu dengan segenap tenaga rochaniah dan djasmaniah jang ada pada kita, - dengan apinja kitapunja djiwa dan dengan apinja kitapunya bedil dan meriam. Angkasa Indonesia pada waktu itu adalah laksana angkasa kobong, bumi Indonesia laksana bumi tersiram api. Oleh karena itu maka pada periode 1945 - 1950 adalah periode Revolusi phisik. Periode ini, periode merebut dan mempertahankan kekuasaan, adalah periode Revolusi politik.

1950 - 1955. Tingkatan ini saja namakan tingkatan "survival". Survival artinja tetap hidup, tidak mati. Lima tahun physical revolution tidak membuat kita rebah, lima tahun bertempur, menderita, berkorban-badaniah, lapar, kedjar-kedjaran dengan maut, tidak membuat kita binasa. Badan penuh dengan luka-luka, tetapi kita tetap berdiri. Dan antara 1950 - 1955 kita sembuhkanlah luka-luka itu, kita sulami mana jang bolong, kita tutup mana jang djebol. Dan dalam tahun 1955 kita dapat berkata, bahwa tertebuslah segala penderitaan jang kita alami dalam periode Revolusi phisik.

1956. Mulai dengan tahun ini kita ingin memasuki satu periode baru. Kita ingin memasuki periodenja Revolusi sosial-ekonomis, untuk mentjapai tudjuan terachir daripada Revolusi kita, jaitu satu masjarakat adil dan makmur, "tata-tentrem-kerta-rahard
ja".
Tidakkah demikian saudara-saudara? Kita berevolusi, kita berdjoang, kita berkorban, kita berdansa dengan maut, toh bukan hanja untuk menaikkan bendera Sang Merah Putih, bukan hanja untuk melepaskan Sang Garuda Indonesia terbang diangkasa? "Kita bergerak", demikian saja tuliskan dalam risalah "Mentjapai Indonesia Merdeka" hampir tigapuluh tahun jang lalu - : "Kita bergerak karena kesengsaraan kita, kita bergerak karena kita ingin hidup lebih lajak dan sempurna. Kita bergerak tidak karena "ideaal" sadja, kita bergerak karena ingin tjukup makanan, ingin tjukup pakaian, ingin tjukup tanah, ingin tjukup perumahan, ingin tjukup pendidikan, ingin tjukup minimum seni dan cultuur, - pendek kata kita bergerak kerena ingin perbaikan nasib didalam segala bagian-bagiannja dan tjabang-tjabangnja. Perbaikan nasib ini hanjalah bisa datang seratus procent, bilamana masjarakat sudah tidak ada kapitalisme dan imperialisme. Sebab stelsel inilah jang sebagai kemladean tumbuh diatas tubuh kita, hidup dan subur daripada tenaga kita, rezeki kita, zat-zatnja masjarakat kita. - Oleh karena itu, maka pergerakan kita itu haruslah suatu pergerakan jang ketjil-ketjilan. - Pergerakan kita itu haruslah suatu pergerakan jang ingin merobah samasekali sifatnya masjarakat"....

Pendek-kata, dari dulu-mula tudjuan kita ialah satu masjarakat jang adil dan makmur.

Masjarakat jang demikian itu tidak djatuh begitu-sadja dari langit, laksana embun diwaktu malam. Masjarakat jang demikian itu harus kita perdjoangkan, masjarakat jang demikian itu harus kita bangun. Sedjak tahun 1956 kita ingin memasuki alam pembangunan. Alam pembangunan Semesta. Dan saudara-saudara telah sering mendengar dari mulut saja, bahwa untuk pembangunan Semesta itu kita harus mengadakan perbekalan-perbekalan dan peralatan-peralatan lebih dahulu, - dalam bahasa asingnya: mengadakan "invesment-invesment" lebih dahulu. Sedjak tahun 1956 mulailah periode invesment. Dan sesudah periode invesment itu selesai, mulailah periode pembangunan besar-besaran. Dan sesudah pembangunan besar-besaran itu, mengalamilah kita Inja-Allah subhanahu wa ta ála alamnja masjarakat adil dan makmur, alamnja masjarakat "murah sandang murah pangan", "subur kang sarwa tinadur, murah kang sarwa tinuku".

Saudara-Saudara! Djika kita menengok kebelakang, maka tampaklah dengan djelas, bahwa dalam tingkatan Revolusi Phisik, segala perbuatan kita dan segala tekad kita mempunjai dasar dan tudjuan jang tegas-djelas buat kita semua: melenjapkan kekuasaan Belanda dari bumi Indonesia, mengenjahkan bendera tiga warna dari bumi Indonesia. Pada satu detik, djam sepuluh pagi, tanggal 17 Agustus, tahun 1945, Proklamasi diutjapkan, - tetapi lima tahun lamanja Djiwa Proklamasi itu tetap berkobar-kobar, tetap berapi-api, tetap murni mendjiwai segenap fikiran dan rasa kita, tetap murni menghikmati segenap tindak-tanduk kita, tetap murni mewahjui segenap keichlasan dan kerelaan kita untuk menderita dan berkorban. Undang-Undang-Dasar 1945, - Undang-Undang-Dasar Proklamasi - , benar-benar ternjata Undang-Undang-Dasar Perdjoangan, benar-benar ternjata satu pelopor daripada alat-Perdjoangan! Dengan Djiwa Proklamasi dan dengan Undang-Undang-Dasar Proklamasi itu, perdjoangan berdjalan pesat, malah perdjoangan berdjalan laksana lawine jang makin lama makin gemuruh dan tá tertahan, menjapu bersih segala penghalang!

Padahal lihat! alat-alat jang berupa perbendaan (materiil) pada waktu itu serba kurang, serba sederhana, serba dibawah minimum! Keuangan tambal-sulam, Angkatan Perang tjompang-tjamping, kekuasaan politik djatuh-bangun, daerah de facto Republik Indonesia kadang-kadang hanja seperti selebar pajung. Tetapi Djiwa Proklamasi dan Undang-Undang-Dasar Proklamasi mengikat dan membakar semangat seluruh bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke! Itulah sebabnja kita pada waktu itu achirnja menang. Itulah sebabnja kita pada waktu itu achirnja berhasil pengakuan kedaulatan, - bukan souvereiniteits-overdracht tetapi souvereiniteits-erkenning - , pada tanggal 27 Desember 1949.

Demikianlah gilang-gemilangnja periode Revolusi phisik.

Dalam periode jang kemudian, jaitu dalam periode survival, sedjak tahun 1950, maka modal perdjoangan dalam arti perbendaan (materiil) agak lebih besar daripada sebelumnja. Keuangan kita lebih longgar, Angkatan Perang kita tidak tjompang-tjamping lagi; kekuasaan politik kita diakui oleh sebagian besar dunia Internasional; kekuasaan de facto kita melebar sampai daerah dimuka pintu gerbang Irian Barat. Tetapi dalam arti modal-mental, maka modal-perdjoangan kita itu mengalami satu kemunduran. Apa sebab?

Pertama oleh karena djiwa, sesudah berachirnja sesuatu perdjoangan phisik, selalu mengalami satu kekendoran; kedua oleh karena pengakuan kedaulatan itu kita beli dengan berbagai matjam kompromis.

Kompromis, tidak hanja dalam arti penebusan dengan kekajaan materiil, tetapi lebih djahat daripada itu: kompromis dalam arti mengorbankan Djiwa Revolusi, dengan segala akibat daripada itu:

Dengan Belanda, melalui K.M.B., kita mesti mentjairkan Djiwa-revolusi kita; di Indonesia sendiri, kita harus berkompromis dengan golongan-golongan jang non-revolusioner: golongan-golongan blandis, golongan-golongan reformis, golongan-golongan konservatif, golongan-golongan kontra-revolusioner, golongan-golongan bunglon dan tjetjunguk-tjetjunguk. Sampai-sampai kita, dalam mengorbankan djiwa revolusi ini, meninggalkan Undang-Undang-Dasar 1945 sebagai alat perdjoangan.

Saja tidak mentjela K.M.B., sebagai taktik perdjoangan. Saja sendiri dulu mengguratkan apa jang saja "tracée baru" untuk memperoleh pengakuan kedaulatan. Tetapi saja tidak menjetudjui orang jang tidak menjadari adanja bahaja-bahaja penghalang Revolusi jang timbul sebagai akibat daripada kompromis K.M.B. itu. Apalagi orang jang tidak menjadari bahwa K.M.B. adalah satu kompromis! Orang-orang jang demikian itu adalah orang-orang jang pernah saja namakan orang-orang possibilis, orang-orang jang pada hakekatnya tidak dinamis-revolusioner, bahkan maungkin kontra-revolusioner. Orang-orang jang demikian itu sedikitnja adalah orang-orang jang beku, orang-orang jang tidak mengerti maknanja "taktik", orang-orang jang mentjampur-bawurkan taktik dan tudjuan, orang-orang jang djiwanja "mandek".

Orang-orang jang demikian itulah, disamping sebab-sebab lain, meratjuni djiwa bangsa Indonesia sedjak tahun 1950 dengan ratjunnja reformisme. Merekalah jang mendjadi salah satu sebab kemunduran modal mental daripada Revolusi kita sedjak 1950, meskipun dilapangan peralatan materiil kita mengalami sedikit kemadjuan. Kalau tergantung daripada mereka, kita sekarang masih hidup dalam alam K.M.B.! Masih hidup dalam alam Uni Indonesia-Belanda! masih hidup dalam alam suprimasi modal belanda!

Mereka berkata, bahwa kita harus selalu tunduk kepada perdjandjian internasional, sampai lebur-kiamat kita tidak boleh menjimpang daripadanja! Mereka berkata, bahwa kita tidak boleh merobah negara federal ála van Mook, tidak boleh menghapuskan Uni, oleh karena kita telah menandatangani perdjandjian K.M.B. "Setia kepada aksara, setia kepada aksara!, demikianlah wijsheid jang mereka keramatkan. Njatalah mereka sama sekali tdak mengerti apa jang dinamakan Revolusi. Njatalah mereka tidak mengerti bahwa Revolusi djustru mengingkari aksara! Dan, njatalah mereka tidak mengerti , - oleh karena mereka memang tidak ahli revolusi -, bahwa modal pokok bagi tiap-tiap revolusi nasional menentang imperialisme-kolonialisme ialah Kosentrasi Kekuatan Nasional, dan bukan perpetjahan kekuatan nasional. Meskipun kita menjetudjui pemberian autonomi-daerah seluas-luasnja sesuai dengan motto kita Bhineka Tunggal Ika, maka federasi á la van Mook harus kita tidak setiai, harus kita kikis-habis selekas-lekasnja, oleh karena federalisme á la van Mook itu adalah pada hakekatnja alat pemetjah-belah kekuatan nasional. Djahatnja politik pemetjah-belahan ini ternjata sekali sedjak tahun 1950 itu, dan mentjapai klimaksnja dalam pemberontakan P.R.R.I.-Permesta dua tahun jang lalu, dan oleh karenanja harus kita gempur-hantjur habis-habisan, sampai hilang lenjap P.R.R.I.-Permesta itu sama sekali!

Ja, sekali lagi: Persetudjuan internasional tidak berarti satu barang jang langgeng dan abadi. Ia harus memberi kemungkinan untuk setiap waktu menghadapi revisi. Apalagi, djika persetudjuan itu mengandung unsur-unsur jang bertentangan dengan keadilan manusia, - dilapangan politikkah, dilapangan ekonomikah, dilapangan militerkah -, maka wadjib persetudjuan tersebut direvisi pada waktu perimbangan kekuatan berobah. Misalnja pendjadjahan terhadap bangsa lain, meski tadinja ia disetudjui dalam sesuatu perdjandjian internasional sekalipun, ta' dapat diterima sebagai suatu hukum jang mutlak dan abadi, jang harus dibenarkan terus menerus sampai keachir zaman.Tidak!, ia harus ditjela setadjam-tadjamnja, ditentang mati-matian, ditiadakan selekas mungkin. Tidak boleh kita membiarkan langgeng dan abadi sesuatu hukum jang berdasarkan penguasaan silemah oleh sikuat.

Saudara-saudara, saja masih dalam membitjarakan periode survival. Selama kita masih dalam periode survival ini, maka segala kompromis dan reformisme jang saja sebutkan tadi tidak begitu disedari akan akibatnja. Ja, mungkin terasa kadang-kadang, bahwa djalannja pertumbuhan agak serat, tetapi keseratan ini makin lama makin diartikan sebagai satu kekurangan atau tjatjat jang memang melekat pada bangsa Indonesia sendiri, satu kekurangan atau tjatjat jang memang "inhaerent" kepada bangsa Indonesia sendiri, - bukan sebagai akibat daripda sesuatu kompromis, atau akibat sesuatu reformisme, atau akibat sesuatu possibilisme, pendek kata bukan sebagai akibat pengorbanan djiwa Revolusi. Segala kematjetan dan keseratan di "verklaar" dengan kata "memang kita ini belum tjukup matang, memang kita ini masih sedikit Inlander", Sinisme lantas timbul! Kepertjajaan kepada kemampuan bangsa sendiri gojang. Djiwa Inlander jang memandang rendah kepada bangsa sendiri dan memandang agung kepada bangsa asing muntjul disana-sini terutama sekali dikalangan kaum intelektuil. Padahal semuanja sebenarnja adalah abibat daripada kompromis!

Masuk kita kedalam periode invesment. Didalam periode inilah, - periode voorbeidingnja revolusi sosial-ekonomi - , makin tampaklah akibat-akibat djelek daripada kompromis 1949 itu. Terasalah oleh seluruh masjarakat - ketjuali masjarakatnja orang-orang pemakan nangka tanpa terkena getahnja nangka, masjarakatnja orang-orang jang "arrivés" , masjarakatnja sipemimpin mobil sedan dan sipemimpin penggaruk lisensi -, terasalah oleh seluruh rakjat bahwa djiwa, dasar, dan tudjuan Revolusi jang kita mulai dalam tahun 1945 itu kini dihinggapi oleh penjakit -penjakit dan dualisme-dualisme jang berbahaja sekali.

Dimana djiwa Revolusi itu sekarang? Djiwa Revolusi sudah mendjadi hampir padam, sudah mendjadi dingin ta'ada apinja. Dimana Dasar Revolusi itu sekarang? Dasar Revolusi itu sekarang tidak karuan mana letaknja, oleh karena masing-masing partai menaruhkan dasarnja sendiri, sehingga dasar Pantja Sila pun sudah ada jang meninggalkannja. Diaman tdjuan revolusi itu sekarang? Tudjuan Revolusi, - jaitu masyarakat jang adil dan makmur -, kini oleh orang-orang jang bukan putra-revolusi diganti dengan politik liberal dan ekonomi liberal. Diganti dengan politik liberal, dimana suara rakjat banyak dieksploitir, ditjatut, dikorup oleh berbagai golongan. Diganti dengan ekonomi liberal, dimana berbagai golongan menggaruk kekajaan hantam-kromo, dengan mengorbankan kepentingan rakjat.

Segala penjakit dan dualisme itu tampak menondjol terang djelas dalam periode invesment itu! Terutama sekali penjakit dan dualisme empat rupa jang sudah saja sinjalir beberapa kali: dualisme antara pemerintah dan pimpinan Revolusi; dualisme dalam outlook kemasjarakatan: masjarakat adil dan makmurkah, atau masjarakat kapitaliskah? dualisme "Revolusi sudah selesaikah" atau "Revolusi belum selesaikah"? dualisme dalam demokrasi, - demokrasi untuk rakjatkah, atau Rakjat untuk demokrasikah?

Dan sebagai saja katakan, segala kegagalan-kegagalan, segala keseratan-keseratan, segala kematjetan-kematjetan dalam usaha-usaha kita jang kita alami dalam periode survival dan invesment itu, tidak semata-mata desebabkan oleh kekurangan-kekurangan atau ketololan-ketololan jang inhaerent melekat kepada bangsa Indonesia sendiri, tidak disebabkan oleh karena bangsa Indonesia memang bangsa jang tolol, atau bangsa jang bodoh, atau bangsa jang tidak mampu apa-apa, - tidak! - , segala kegagalan, keseratan, kematjetan itu pada pokoknja adalah disebabkan oleh karena kita, sengadja atau tidak sengadja, sedar atau tidak sedar, telah menjeléwéng dari Djiwa, dari Dasar, dan dari Tudjuan Revolusi!

Kita telah mendjalankan kompromis, dan kompromis itu telah menggerogoti kitapunja Djiwa sendiri!

Insjafilah hal ini, sebab, itulah langkah pertama untuk menjehatkan perdjoangan kita ini.

Dan kalau kita sudah insjaf, marilah kita, sebagai sudah saja andjurkan, memikirkan mentjari djalan-keluar, memikirkan mentjari way-out, - think and re-think, make and re-make, , shape and re-shape. Buanglah apa jang salah, bentuklah apa jang harus dibentuk! Beranilah membongkar segala alat-alat jang tá tepat, - alat-alat maretiil dan alat-alat mental -. beranilah membangun alat-alat jang baru untuk meneruskan perdjoangan diatas rel Revolusi. Beranilah mengadakan "retooling for the future". Pendek kata, beranilah meninggalkan alam perdjoangan setjara sekarang, dan beranilah kembali samasekali kepada Djiwa Revolusi 1945

Foto Kerja Sukarno dan Agus Salim Saat Revolusi



Politisi jaman dulu bekerja buat rakyatnya dan membangun negerinya dengan pemikiran yang sungguh-sungguh serta tidak berharap mendapatkan kekayaan materi lihatlah Agus Salim dan Bung Karno ini yang terus menerus bekerja secara marathon untuk segera membereskan persoalan-persoalan perang di Indonesia. Agus Salim tidak tidur sepanjang malam, Bung Karno terus menerus membuat konsep yang bisa disebarkan ke beberapa orang delegasi perundingan serta melakukan perintah-perintah politik kepada para Jenderal perangnya untuk melakukan strategi menahan pasukan dan menyiapkan beberapa kantong militer di wilayah Republik. Foto ini dibuat sekitar tahun 1947. Dua tahun kemudian Bung Karno dan Agus Salim ditangkap Belanda dan dibuang ke Bangka.

Agus Salim hidupnya miskin, ia hanya tinggal di sebuah gang kecil yang becek dimana Moch. Roem pernah mengisahkan hal ini. Tapi orang macam Agus Salim meninggalkan jasa yang luar biasa terhadap republik ini, begitu juga dengan Sukarno, dengan Hatta, dengan DN Aidit, dengan Hamka, dengan Sudirman, dan banyak tokoh lain yang melarat hidupnya. Tapi cobalah liat anggota DPR sekarang, untuk mengerjakan hal yang sebenarnya hanya berbiaya 10 juta rupiah saja bisa dianggarkan sampai 22 Milyar. Jadi saat kita makan di Restoran, saat kita menerima struk gaji, saat kita bayar parkir mobil dan saat kita beli tiket bioskop pajak yang dipotong dari transaksi kita itu digunakan untuk hura-hura para anggota Dewan.

Para pendahulu kita bekerja keras untuk mengembangkan negeri ini, memajukan kecerdasan bangsa ini dan menyumbangkan tenaganya -Onderbank werk- untuk rakyat yang dicintainya. Para perampok anggaran di DPR menggarong duit negara yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan bangsanya dan ironisnya mereka disebut : "Anggota Dewan Yang Terhormat".

Sukarno dan Pancasila



Pancasila..saudara-saudara merupakan Overtrekking, puncak dari segala puncak penemuan Ideologi. Oleh kerna Marx menemukan bagaimana menghancurkan daripada sistem harga-harga yang diciptakan oleh kaum Borjuis, sistem manipulasi borjuis yang menghasilkan penindasan, Oleh karena Jefferson menemukan bagaimana sebuah negara bisa dieksperimen, bisa dibentuk dan bisa dibuat dalam sebuah gagasan besar tentang 'Manusia menjadi segala pusat kerja' sehingga membentuk negara yang kuat dan kaya raya. Maka Pancasila adalah perpaduan keduanya!!...

Perpaduan daripada gagasan menghilangkan penindasan seperti yang dimaklumkan Karl Marx, sebagai gagasan besar tentang membangun sebuah bangsa raksasa seperti yang diinspirasikan oleh Jefferson. Maka Pancasila juga mengambil daripada gagasan raksasa tentang penghargaan kemanusiaan yang telah dilahirkan Abraham Lincoln. Oleh kerna itu, aku ini sedjak muda memperdjoangkan daripada gagasan-gagasan ini, kuncinya satu..hanya satu!!...PERSATUAN. Persatuan adalah kunci dari segala kunci membentuk Modal Indonesia Raya, Indonesia Raya yang mampu, yang bisa menjadi MERTJU SUARNYA DUNIA...Menjadi arah pemandu daripada pembebasan manusia, menjadi sebuah avant garde dari Menghormatkan kemanusiaan. Peradaban manusia ditentukan oleh sikap saling hormat menghormati tiada ...tiada...tiada Penindasan, tiada penindasan...tiada penindasan sekali lagi ...saya kataken Tiada penindasan!!!! diantara persoon dengan persoon, negara dengan rakyatnya dan negara yang kuat dengan negara yang lemah.


Aku katakan padamu, aku telah melewati begitu banyak kejadian, melewati kehidupan penuh bahaya ini, mata tuaku sudah melihat begitu aneka rupa kedjadian, aku melihat jatuh bangunnya bangsaku, aku melihat dunia kecil dari jeruji penjara, dan kini ditengah kalian hai bangsa-bangsa yang baru merdeka, hai para pemimpin-pemimpinnya dunia, saya kataken : TIDAK UNTUK PENINDASAN, TIDAK UNTUK PENJAJAHAN. Dan penjajahan bukan saja lagi penjajahan yang mengancam rakyat dengan penjara bukan lagi penjajahan yang menendangi kepala petani dan kaum buruh, tapi penjajahan yang dibentuk oleh modal.

Indonesia Raya dibangun untuk membebaskan manusianya, dibentuk untuk memakmurkan bangsanya dan digagas untuk menjadi sebuah tempat : Berkumpulnya Manusia Baru, yang punya semangat menggebu-gebu, punya kekuatan maha raksasa untuk mengubah dunia, menjadi dunia yang nyaman bagi seluruh umat manusia. Itulah inti dari Revolusi Indonesia............

Rahasia Proklamasi


Sekitar awal tahun 1945 Bung Karno dan Bung Hatta ke Dalat Saigon ,dia bareng dengan beberapa orang Tokoh penting Malaya seperti Dato' Ibrahim Hadji Jacoub, Adenan dan Sekar Chandra Bose didampingi Marsekal Terauchi ingin bertemu Gunseikan. Tapi disana delegasi tidak berjumpa dengan Gunseikan yang saat itu dikabarkan sedang mabok (hal ini terungkap beberapa tahun kemudian).

Saat itu Sukarno sudah mengantungi tanggal kemerdekaan akan terjadi pada 25 Agustus 1945. Tapi Sukarno harus menunggu konfirmasi dari pihak Jepang. Penggede Jepang masih sibuk mempertahankan seluruh pulau-pulau luar Jepang yang sudah diinvasi sekutu. Kunjung tak ada jawaban, kemudian keluarlah tanggal konfirmasi yakni 7 September 1945 kemerdekaan bisa dilakukan. Sekembalinya dari Dalat, ada sikap lain dari Sukarno dan Hatta ia amat merahasiakan apa yang terjadi pada pertemuan di Dalat.

Beberapa kali tokoh pemuda seperti Wikana, Sukarni atau Maruto mendesak, "Pembicaraan di Dalat" tapi Sukarno bungkem seribu bahasa, Hatta pun begitu. Yang jelas para pemuda merasa akan terjadi 'Proklamasi buatan Djepang'. Beberapa pemuda di rumah Maruto berkumpul untuk melakukan tindakan nekat, meng-fait accompli sebuah tindakan yang mengunci agar jangan sampai 'Proklamasi buatan Djepang' terjadi di Indonesia.

Sementara di lain waktu, kelompok bawah tanah (Illegal) sudah menyatakan penyatuan kepemimpinan akan berada di tangan Sjahrir. Mereka menolak Amir karena dinilai terlalu dekat dengan Belanda. Pemuda-pemuda tersebut kemudian menyusun Proklamasi dimana nantinya Sjahrir yang akan membacakan, para pemuda sepakat bahwa Sjahrir yang akan memimpin perjuangan, karena Sjahrir bersih dari tuduhan kolaborator dengan Jepang.

Mendapat beban tanggung jawab luar biasa, Sjahrir merasa gamang. Apakah ia bisa melakukan Proklamasi, 'apakah rakyat dibelakang saya'. Kegamangan itulah yang kemudian membuat Sjahrir pergi ke rumah Maruto di Jalan Veteran I, dengan keraguan luar biasa Sjahrir bertanya pada Maruto "Bung yakin pemuda kita sudah siap?..."Siapa yang memimpin pemuda?" . Membuat dan menyiarkan proklamasi itu gampang tapi mempertahankannya yang sulit. Itu perlu kekuatan, dimana kekuatan kita?.

Maruto berusaha menerangkan kesiapan pemuda, ia yang akan ambil resiko, pemuda siap dan panjang lebar Maruto menjawab kegamangan Sjahrir. Maruto kecewa setelah Sjahrir pulang dari rumahnya masih menyimpan rasa ragu.

Lalu Maruto bertemu dengan kliknya : Sukarni, Pandu Kartawiguna, Adam Malik dan Chaerul Saleh. Sukarni beberapa kali geleng-geleng sambil nggak percaya Sjahrir bisa ragu seperti itu. Pandu nggebrak meja dan marah-marah mendengar kelakuan Sjahrir yang ragu, Adam Malik ketawa dan ia paham dengan jalan pikiran Sjahrir, Chaerul Saleh idem dengan Adam Malik.

Nggak lama kemudian keadaan makin genting, Maruto pergi ke Cirebon. Di sana ia berjumpa dengan dr. Sudarsono (Bapaknya eks Menhan Juwono Sudarsono). -Son-, panggilan akrab Sudarsono meminta teks proklamasi yang dia kira sudah diteken Sjahrir. "Mana teks proklamasi itu?" Maruto menjawab "Belum ada, Son" Lalu Son marah-marah "Aku sudah bersepeda 60 km tapi nggak ada teks itu, bilang sama Sjahrir saya akan buat sendiri teks itu!" Akhirnya Son, sendiri nekat mengumumkan 'Proklamasi Cirebon' 16 Agustus 1945. Dihadiri sekitar 150-an orang terutama dari tokoh PNI-Pendidikan, Proklamasi dilakukan di alun-alun Cirebon.

Sementara di Djakarta kondisi makin genting. Djawoto mengabarkan kepada beberapa tokoh pemuda bahwa Sjahrir malah mengunjung Sukarno-Hatta untuk melakukan Proklamasi. "Lha, daripada Sjahrir yang ndesak biar kita aja desak itu Sukarno" pikir pemuda. Lalu terjadilah peristiwa Rengasdengklok, dimana Sukarno dipaksa Sukarni yang sama-sama berdarah Blitar untuk memerdekakan Indonesia sekarang juga. Itu juga terjadi insiden gebrak-gebrakan meja sampai tangan Sukarno sakit, Hatta yang menenangkan semuanya. Hatta masih ragu apakah Djepang kalah beneran? - Hal ini kerap jadi ungkitan setelah masa Proklamasi, bahkan setelah kejatuhan Sukarno 1966, Sukarni laris diwawancarai oleh wartawan asing tentang apa yang terjadi sebenarnya pada peristiwa 16/17 Agustus 1945 itu.

Sukarno-Hatta menolak pada awalnya karena mereka terikat komitmen pada Djepang. Tapi Sukarni lebih nekat lagi. Ternyata ada rahasia penting disini yang membuat Sukarno dan Hatta mau ikut kemauan Sukarni cs. Sewaktu di Dalat, Saigon. Penggede Djepang meminta kemerdekaan Indonesia itu meliputi wilayah : "eks Hindia Belanda dan Seluruh Malaya" Bung Karno dan Bung Hatta amat merahasiakan hal ini agar jangan sampai pemuda-pemuda itu tahu. Sebab kalau Malaya ikut serta, maka Indonesia harus siap berhadapan dengan pemenang perang yaitu : Inggris, dan kemungkinan kemerdekaan Indonesia batal secara hukum" Sukarno-Hatta menghitung kekuatan pemuda tidak akan sanggup bila menghadapi serbuan Inggris, sementara Belanda pasti senang bila Inggris ikut campur soal eks Hindia Belanda. Itulah hebatnya Sukarno dan Hatta yang mampu memprediksi peta kekuatan lawan secara dingin. Sukarno itu penuh perhitungan dan yang paling cerdas disini sebenarnya Hatta, ia mampu memprediksi secara detil apa yang terjadi bila sesuatu dilakukan. Bersama Hatta sebenarnya Sukarno menemukan kekuatan daya nalarnya, sayang setelah tandem Sukarno, Subandrio daya terobos Sukarno menjadi tak terkendali, tak ada hitungan politik yang dingin dan cermat. Tapi yang jelas disini dari awal Sjahrir juga mengira senjata paling efektif adalah melakukan agitasi ala Sukarno jadilah di awal kemerdekaan pada jam-jam pertama Sjahrir merapat ke Sukarno, Sjahrir gagal prediksi bahwa dikemudian waktu kekuatan bersenjata amat pesat, apalagi setelah kemunculan Tan Malaka di ruang publik. Perang menjadi sedemikian heroik. Amir Syarifudin juga berhasil mengonsolidasi militer resmi menjadi kekuatan raksasa yang bisa melawan agresi militer Belanda kelak dikemudian hari.

Tiga orang tokoh Malaya : Dato' Ibrahim Hadji Jacoub, Adenan dan Chandra Sekar Bose (Sekar-Bose meninggal karena pesawatnya ditembak). kecewa karena Malaya tidak ikut diproklamasikan kemerdekaannya satu dengan wilayah Indonesia. Akhirnya Ibrahim dan Adenan ikut perjuangan Indonesia. Ibrahim berganti nama menjadi Iskandar Kamel, Iskandar Kamel ini sohibnya Tun Abdul Razak, ia berjuang perang dengan Belanda takut pulang ke Malaya kerna bila pulang takut kena tuduh bagian dari kolaborator Djepang. Akhirnya ia masuk TNI dan jadi Kolonel. Terakhir ia menjadi Ketua Partindo, pada pemilu 1971, Iskandar Kamel masuk Partai Murba. Sementara Adenan yang awalnya masuk TNI lalu berhenti dari dinasnya dan pergi ke Amerika Serikat disana ia mendirikan Biro Arsitek "Adenan & Adenan"

Sukarno dipenjara untuk Kemerdekaan Bangsanya




Setelah Sukarno membaca Indonesia Menggugat hakim tetap memutuskan Sukarno bersalah dan ia harus dipenjara di Sukamiskin. Sukarno adalah seorang Sarjana Teknik Arsitektur, saat itu Kota Bandung sedang menggeliat menjadi kota besar bahkan Bandung mendapat predikat kota kolonial terbaik di dunia pada perlombaan tata ruang kota di Afrika Selatan pada tahun 1928. Profesi Arsitektur saat itu booming, Sukarno ditawari menjadi pegawai pemerintah untuk mendesain bangunan-bangunan pemerintah, sarana umum seperti jembatan dan desain taman kota. Tapi Sukarno menolak, walaupun ia ditawari gaji : 5.000 gulden, namun Sukarno berkata pada orang yang menawarinya "Saya memang akan hidup enak dengan gaji seperti ini, saya bisa menyenangkan orang tua saya, saya bisa bahagia membangun rumah tangga tanpa kekurangan sedikitpun. Tapi bila saya terima ini, bangsa saya tidak akan berubah. Dan mimpi-mimpi saya seperti akan menjadi tergadaikan hanya untuk kesenangan pribadi. Bagi saya Tuan, perjuangan untuk bangsa ini, diatas segala-galanya. Saya hidup diatas landasan mimpi saya, dan dengan begitu saya tidak mengkhianati mimpi-mimpi saya dan mimpi jutaan orang dari bangsa ini, bangsa yang bermimpi memiliki kebebasannya".


Ia yang berjuang demi bangsanya, rela masuk bui pada sel kecil sempit dan bau, ia rela mengorbankan kesenangan-kesenangan pribadinya. Dia hanya bisa berolahraga menghangatkan dirinya dengan matahari hanya satu jam lalu dikurung lagi. Inilah watak manusia sesungguhnya, ia berjuang demi mimpi dan Sukarno hanyalah satu dari representasi ribuan manusia Indonesia yang rela dikurung badannya demi sebuah bangsa. Mereka menolak kesenangan dunia, mereka bersatu menderita demi mimpi yang mereka inginkan.

Lalu kemanakah bangsa yang diimpikan Sukarno ini? Bangsa yang sudah didirikan dengan pengorbanan bui, buang dan bunuh ini. Puluhan tahun setelah Sukarno mati, puluhan tahun setelah apa yang diimpikannya berhasil, rakyat negeri ini hanya melihat dagelan-dagelan politik yang isinya pembohongan semua. Dari Presiden sampai pegawai sekecil-kecilnya memamerkan cara terampil berkorupsi, tak ada gairah perjuangan, gairah hidup menderita demi terwujudnya mimpi, semua senang-senang menghamburkan uang rakyat, uang yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan umum.

Pada diri Sukarno, pada ribuan orang yang hidup di Digoel, Pada kematian-kematian di masa Orde Baru yang berjuang menggulingkan pemerintahan fasis, hendaknya Presiden SBY merasa malu, bahwa negerinya berjalan seolah tanpa etika.

Kelahiran Sukarno



Kelahiran Bayi Kusno dan Kelahiran Sukarno

Pagi setelah Subuh, Pada 6 Juni 1901 di satu jalan sempit perkampungan Surabaya, telah lahir seorang bayi lelaki yang dinamakan Kusno dari seorang ayah bernama Sukemi Sosrodihardjo. Sukemi memberikan nama anak ini singkat saja : Kusno, lalu beberapa jam setelah kelahirannya, ia menuliskan surat kepada saudara-saudara isterinya yang berada di Singaraja, Bali :"Telah lahir anakku yang kuat dan sehat, berwajah bersih dan menawan. Semoga kelak dia akan berguna untuk bangsa ini dan kebaikan kita semua" Setelah menerima surat Sukemi, saudara-saudara Nyoman Rai langsung beribadah di Pura memohon agar bayi ini diberi perlindungan dewata, di Surabaya Kusno kecil juga di adzani sesaat setelah dilahirkan. Sejak bayi, Sukarno memang ditakdirkan tidak hanya direstui satu jenis doa saja. Ia dilahirkan dalam situasi-situasi penuh perbedaan.

Beberapa bulan kemudian ia tumbuh menjadi bayi yang ringkih, ia sakit-sakitan. Lalu Sukemi mengganti nama Kusno menjadi nama Sukarno. Dan entah kenapa penyakit panasnya kontan sembuh.

Sukarno kecil tumbuh menjadi anak yang lincah, ia amat suka bermain. Dan dalam permainan ia ingin selalu menjadi pemenang. Jika tidak maka lawan akan dihantamnya atau mainan kawannya dibuang ke kali, dan kelak di masa tuanya Sukarno bercerita pada Cindy Adams "Aku ingin selalu menjadi pemenang, bila kawanku memiliki gasing yang lebih baik dan lama berputarnya, dan aku gagal mengalahkannya maka gasing itu kuambil lalu kubuang. Itulah cara-cara Sukarno dia tidak boleh dikalahkan".

Perjalanan hidup Sukarno tak bisa dilepaskan dari dua hal : Buku dan Mimpi. Perkenalannya dengan dunia buku pertama kali adalah saat ia sudah bisa membaca di umur 6 tahun. Ayahnya pulang mengajar dan membawa buku cerita tipis tentang cerita-cerita anak Belanda. Sejak itu Sukarno suka sekali membaca. Suatu saat ayahnya mengajak ke perpustakaan di tengah kota dan Sukarno melihat sebuah buku yang amat menarik judulnya "David Copperfield" karangan Charles Dickens, buku inilah yang kemudian membawa Sukarno pada kesukaan membaca dunia sastra, dan entah kenapa penderitaan David Copperfield justru mengilhami dirinya Pertama, ia selalu mengindentifikasikan dirinya sebagai David Copperfield dan kedua, ia mulai belajar tentang susunan masyarakat berdasarkan kelas-kelas sosial. Disini Sukarno mulai mengerti tentang situasi penindasan, setidaknya penindasan satu manusia dengan manusia lainnya.

Sukarno selalu bermimpi menjadi pembebas, ia seorang sembrono dalam memutuskan sesuatu, sama ketika saat ia pulang sekolah dan melihat beberapa sinyo bermain bola lalu ia ikut bermain di tengah lapangan dan sinyo-sinyo tersebut mengusirnya lalu Sukarno dihajar habis-habisan, atau Sukarno tanpa seijin ayahnya memacari wanita Belanda dan kemudian diusir ayah pacarnya itu, sakit hati Sukarno inilah yang kemudian menjadi dasar pembentukan dirinya di masa depan. Sukarno sedikit-sedikit mulai paham bahwa bangsanya dijajah oleh bangsa lain.

Suatu hari Sukarno sedang menumbuk beras di pelataran, lalu ia melihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan rumahnya. Ia melihat seorang lelaki berusia 30-an, langsing dan berkumis baplang. Ia memanggil Sukarno dan bertanya "Apa ini rumah Pak Sukemi?" Sukarno mengangguk, ada getar di hatinya saat melihat wajah orang itu. Sukarno seakan melihat masa depannya. Orang itu adalah HOS Tjokroaminoto.

HOS Tjokroaminoto adalah bidan yang melahirkan watak-watak Sukarno, dan pertemuan dengan Tjokro inilah yang kemudian menjadi kelahiran kedua bagi diri Sukarno melihat dunia.


Anton Djakarta, 6 Juni 2011

Mengukur Imajinasi Sukarno


Mengukur Imajinasi Sukarno

Mempelajari Sukarno adalah sebuah imajinasi, sebuah degup yang mungkin tidak akan pernah berhenti. Sukarno dibesarkan oleh ilmu pengetahuan cara barat, tapi ia selalu berpikir dan bertindak dengan cara-cara Jawa. Orang Jawa tidak pernah menggunakan rasio-rasio yang terukur untuk membangun tindakan, mereka lebih mengedepankan insting-insting yang dipercayainya, mereka membangun tindakan dari rangkaian insting itu. Mustahil mempelajari Sukarno dan apa yang dilakukannya tanpa kita melibatkan banyak unsur kultural, sejarah kekuasaan Jawa, psikologis kekuasaan Jawa, cara orang Jawa melihat masa depan, cara orang Jawa mendalami siklus jaman dan yang terpenting dialektika jaman yang bekerja.

Puncak kerja Sukarno adalah tahun 1960-an, yang oleh sejarawan Orde Baru dilabur sebagai tahun kebangkrutan Indonesia. Tapi sadarkah kita? di tahun-tahun itu Indonesia berada pada puncak sejarahnya. Puncak keagungannya? Militer kita terbesar nomor lima di dunia, pengaruh diplomasi kita meliputi hampir separuh dunia. Di luar Amerika Serikat dan Sovjet Uni, Indonesia-lah yang paling berperan dalam dunia politik internasional.

Kemiskinan di masa Sukarno yang diberitakan oleh media-media barat ini tak lebih antrean minyak tanah pada masa SBY, bahkan PKI yang kerap memprotes tindakan pemerintah oleh sejarawan Orde Baru dianggap sebagai penyebab lesunya ekonomi. Analisa ini menjadi lucu karena PKI berada diluar struktur pemerintahan. Ekonomi Indonesia tidak morat-marit sama sekali di Jaman Bung Karno, bahkan bila kita melihat secara EVA (Economics Value Added) rangkaian kinerja Sukarno tahun 1960-1965 memiliki nilai tinggi di masa depan, yaitu apa? -adanya penguasaan secara penuh modal nasional-. Sukarno dengan tahapan-tahapannya mengarahkan negara untuk menguasai modal nasional secara utuh. Dengan penguasaan modal nasional maka ia bermimpi : Biaya kesehatan dibiayai gratis, sekolah anak-anak bangsa gratis, dia bisa membiayai anggaran militer yang kuat dan seluruh Indonesia dibangun pelabuhan-pelabuhan dagang yang kuat serta ramai dan menjadi jalur penting perdagangan dunia. Tapi ekonom cupet, sejarawah tolol banyak melihat sesuatu hanya satu scoupe, satu dimensi, gagal melihat sesuatu dengan gairah keseluruhan.

Di jaman Sukarno ketimpangan kekayaan nyaris tak ada. Anak Menteri dan anak rakyat biasa bersekolah di tempat yang sama, naik sepeda dengan merek yang sama, korupsi kalaupun ada jelas penyelesaiannya. Tidak ada kelompok atau orang yang berani korupsi dalam skala raksasa, karena kalau itu terjadi maka beresiko dihadapkan ke regu tembak.

Tapi masa Sukarno mungkin sudah lama berlalu, kita melewati sedemikian lama pengelabuan sejarah Orde Baru, dan sekelompok orang sekarang yang tak percaya bagaimana dunia sosialisme bekerja. Kita dipaksa untuk percaya bahwa Mall-Mall, Ruang Perbelanjaan Kapitalis, Rumah Sakit Mahal, Universitas Mahal adalah masa depan Indonesia, kita dipaksa percaya untuk itu.

Mimpi-mimpi Sukarno menjadi hantu yang menakutkan bagi mereka.............

Ketika Sukarno Menikahkan anaknya


Pada tahun 1969 Sukarno ditengah sakit ginjalnya yang parah menghadiri pernikahan anaknya Rahmawati Sukarnoputeri dengan Martomo Pariatman Marzuki atau dikenal dengan panggilan Tommy. Pernikahan itu jauh dari kemewahan, dalam kondisi yang amat prihatin. Pernikahan cukup berlangsung di rumah Ibu Fatmawati di Jalan Sriwijaya Kebayoran.
Saat Bung Hatta datang ke pernikahan itu dan memberi selamat kepada Rachma. Tiba-tiba terbuka pintu ada beberapa tentara. di antara kerumunan tentara ada Bung Karno yang memakai jas hitam agak kedodoran dengan muka bengkak-bengkak datang ke pernikahan anaknya itu. Ketika melihat kehadiran Bung Karno di sana, semua mata tertuju ke pintu. Beberapa orang meledak tangisnya termasuk Guntur. Hatta mengusap air mata dan tersedu-sedu melihat Sukarno. Fatmawati langsung berlari ke arah Sukarno dan menciumi suaminya itu. Sukarno berusaha tertawa tapi jelas ia sudah amat kepayahan. Sementara di luar rumah berita kedatangan Sukarno mulai diketahui banyak orang, dari tukang becak sampai tukang dagangan berlarian ke depan pagar rumah Sriwijaya mereka berteriak-teriak : “Hidup Bung Karno….Hidup Bung Karno” komandan tentara kaget dan memerintahkan agar Sukarno tidak terlalu lama di rumah Sriwijaya, ia harus segera pulang ke Wisma Yaso.
Inilah satu-satunya pernikahan Bung Karno untuk anaknya yang ia hadiri. Sebuah tragedi memilukan dari seorang yang mendirikan bangsa ini. Seorang yang sepanjang hidupnya bekerja untuk Indonesia Raya. Seorang yang membebaskan bangsanya.

Bung Karno dan Peta Dunia



Pernahkah anda memperhatikan peta dunia?, yang anda lihat pasti posisi Asia di tengah, Asia menjadi centrum dari tata gambar peta. Tahukah anda bahwa seluruh peta dunia yang beredar sekarang, peta dunia yang digantungkan di sekolah-sekolah seluruh dunia, di seluruh kantor resmi negara dan dipelajari anak-anak sekolah adalah pengaruh Bung Karno?

Awalnya setelah KMB 1949, dan penyerahan kedaulatan, Bung Karno berpikir tentang tatanan dunia setelah peperangan Indonesia, keberhasilan Indonesia memperpendek perang dengan Belanda dia meletakkan Indonesia sebagai centrum dari segala centrum gerakan kemerdekaan di Asia dan Amerika Latin. Pemahaman Bung Karno tentang meletakkan Asia sebagai centrum dunia ini dipengaruhi dua orang, yaitu : Tan Malaka dan Ki Ageng Suryomentaram.

Beberapa bulan setelah Proklamasi Agustus 1945, Tan Malaka berhasil dihubungi pemuda-pemuda di Bogor, lalu lewat Maruto Nitimihardjo, Tan Malaka berhasil dibawa ke Djakarta, disana juga telah hadir beberapa orang, setelah pidato Tan Malaka yang terkenal di Cikini atas permintaan mahasiswa Prapatan 10, Tan Malaka bertemu dengan Bung Karno yang diantar dokter pribadinya Suharto ke sebuah rumah lalu dibawa ke kamar gelap tanpa lampu disana Bung Karno dan Tan Malaka berbicara berdua, selama berjam-jam Bung Karno digembleng apa arti kemerdekaan dan meletakkan Indonesia dalam peradaban dunia. Bung Karno paham. Tapi kemudian Tan Malaka terseret arus gerakan yang lain dan berpisah jarak dengan Bung Karno.

Di bulan Maret 1950 Bung Karno kedatangan tamu dari Yogyakarta bernama Ki Ageng Suryo Mentaram, Ki Ageng Suryo Mentaram adalah anak dari Sultan Hamengkubuwono VIII yang telah meminta berhenti sebagai Pangeran dan menjalani kehidupan sebagai ahli kebatinan. Ia seorang pangeran yang unik, tapi brilian dalam memahami kehidupan, dia juga adalah orang yang mempengaruhi Bung Karno tentang konsep kemanusiaan dan kebangsaan, serta konsep harga diri sebagai manusia. Pada tahun 1938 sebelum kekalahan Belanda dengan Jepang di tahun 1942, ia diam-diam menyusun kekuatan militer dengan melatih silat ratusan pemuda lalu sempat digerebek rumahnya oleh PID, Intel Hindia Belanda dan diseret ke penjara tapi kemudian Sultan HB VIII turun tangan menyelamatkan adiknya itu dengan uang jaminan, Ki Ageng menyadari 'waktunya sudah dekat' untuk Belanda pergi dari Indonesia dan di tahun 1942 sebelum lembaga Putera (Pusat Tenaga Rakyat) terbentuk dimana Bung Karno, Hadji Mas Mansjur, Hatta dan Ki Hadjar Dewantoro jadi pemangkunya, mengunjungi Ki Ageng Suryomentaram untuk meminta doa restu, sekaligus disana dinasihati agar Putera segera membentuk pertahanan militer. "Kehormatan manusia terletak pada keberaniannya, keberanian-lah yang membuat manusia ada" kata Ki Ageng Suryomentaram kepada Bung Karno. Pada pertemuan Ki Ageng Suryomentaram di Istana Merdeka, Ki Ageng berpesan pada Bung Karno agar untuk menjadi bangsa terhormat, maka 'sadarilah diri kita ada'. Pesan Ki Ageng Suryomentaram inilah yang kemudian diresapi Bung Karno. Dan atas dasar Ki Ageng Suryomentaram didirikanlah PETA (Pembela Tanah Air) walaupun di buku-buku sejarah sering disebut Gatot Mangkoepradja menuliskan dengan jempol darah untuk meminta Jepang mendirikan Tentara Rakyat (PETA).

Setelah kepulangan Ki Ageng Suryomentaram Bung Karno berpikir dalam-dalam tentang Indonesia, kenapa Indonesia selalu tersingkir, kenapa Indonesia bangsa yang besar ini 'seolah-olah tak ada di mata dunia'. Lalu Bung Karno duduk lama di perpustakaannya di Istana dan bergelut dengan puluhan buku, kebiasaan Bung Karno adalah ketika ia sudah mendapatkan ide tentang memikirkan sesuatu maka ia memerintahkan beberapa orang pegawai Istana mencari buku-buku dengan judul yang dimaksud, lalu buku-buku itu dibentangkan halamannya, jarang bagi Bung Karno menyelesaikan satu buku, sekali ia baca buku ia bisa membaca sepuluh buku, ia dengan cepat membaca struktur, menarik substansi daripada isi, lalu mencoret-coret isi tersebut disamping buku, notes-notes ini yang kemudian jadi pokok pikiran Bung Karno, inilah bedanya Bung Karno dengan Hatta yang bersih dari coretan dan Hatta selalu berdisiplin menyelesaikan satu buku yang dibacanya dengan rinci, tak boleh satu halaman-pun lecek, Hatta adalah pecinta fanatik buku, sementara Bung Karno lebih kepada perusak buku dan senang mengacak-acaknya, yang penting baginya substansi pemikiran sebuah buku ketemu.

Saat itu yang ia pikirkan adalah 'Rahasia dibalik hilangnya Indonesia dari peradaban', Bung Karno membuka catatan-catatan sejarah masa lalu Indonesia, ia membaca History of Java yang kemudian dihubungkan dengan buku Revolusi Perancis lalu ia meloncat ke buku tentang Geopolitik Karl Haushofer, ia meloncat lagi ke buku filsafat eksistensialisme dari berbagai macam buku akhirnya bertemu pada satu titik : "Keberadaan ditentukan oleh Perhatian, Keberadaan ditentukan oleh kesadaran 'bahwa saya ada'..." ketika Bung Karno sampai pada kesimpulan tersebut lalu matanya menumpu pada Peta yang menggantung di perpustakaan Istana. Ia tercekat 'dimanakah Indonesia?' kemudian ia berdiri dari tempat duduknya dan mendekat ke peta, 'Atlas ini tidak menempatkan Indonesia sebagai bagian utuh dunia, Indonesia hanya digambarkan garis-garis kecil. Kemudian ia teringat Tan Malaka dan Ki Ageng Suryomentaram tentang hakikat 'keberadaan'.

Sebelum tahun 1900, pusat atlas dari dunia adalah Eropa, barulah pada tahun 1910-an, Amerika Serikat membuat atlas resmi yang menjadikan benua Amerika sebagai pusat Atlas. Seluruh Atlas dunia tidak menempatkan Asia sebagai pusat dunia. Bung Karno di tahun 1935 sudah meramalkan pusat dari dunia adalah Asia, lalu di masa masa Revolusi, Bung Karno sering mengobarkan pidato 'Kelak dunia berpusat di Asia, seluruh dunia akan datang bangsa-bangsa Asia, untuk itu kita harus merdeka' dan Indonesia adalah salah satu bangsa pertama yang merebut kemerdekaannya. Bung Karno melakukan hitung-hitungan bahwa Indonesia akan menjadi bangsa terkuat di Asia setelah melakukan penetrasi terhadap geopolitik dunia, namun untuk pertama-tama sebelum masuk pada penetrasi geopolitik, Bung Karno ingin dunia sadar bahwa Indonesia ada, dan Bung Karno berpikir bagaimana meletakkan Asia dan Indonesia sebagai pusat dunia dalam atlas.

Setelah merenung bermalam-malam tentang soal menyadarkan dunia bahwa 'Indonesia ada', akhirnya Bung Karno berpikir untuk membuat peta dunia. Suatu pagi Bung Karno mengundang sarapan Muhammad Yamin dan beberapa orang, Bung Karno senang sekali dengan M Yamin, jika Yamin bercerita soal kehebatan masa lalu Jawa di tengah bangsa-bangsa di dunia, walaupun harus diuji kebenaran fakta sejarah, tapi Yamin berhasil membuat definisi soal wawasan geopolitik Gadjah Mada dan jaringan Nusantara yang membentuk geopolitik keIndonesiaan. "Yamin, aku ingin membuat Peta dimana Asia dibuat jadi centris-nya, dimana Indonesia dengan 'gagah' berada di tengah-tengah bangsa di dunia". Yamin langsung menyambar :"Coba saja panggil Pak Djamalludin, mungkin dia bisa" yang dimaksud Djamaluddin adalah Adinegoro, seorang jurnalis Indonesia terkemuka pada tahun 1920-an.

Djamaluddin yang punya nama pena Adinegoro itu, merupakan orang Indonesia pertama yang belajar soal Jurnalistik secara khusus, ia belajar langsung ke Jerman, disana ia berguru dengan Professor E. Dofivat. Ketika belajar di Jerman ini juga Adinegoro bergabung dengan perkumpulan yang bernama Asiatische Verein, persatuan Asia, sebuah embrio gerakan besar yang menyadarkan kebesaran Asia ditengah-tengah dunia yang sedang bergolak. Saat Adinegoro belajar di Jerman juga ia menekuni dengan jeli buku Karl Haushofer yang berjudul : Geopolitik Des Pasifischen Ozeans. Dalam buku Politik Lautan Teduh diramalkan bahwa bangsa Melayu (Indonesia) akan jadi bangsa Merdeka dan menjadi bangsa maritim terkuat di dunia. Kesadaran ini juga yang terus mendorong Adinegoro untuk menekuni sejarah geopolitik dan kerap menulis tentang laporang Perang Dunia yang meletus di tahun 1939 sampai dengan tahun 1945.

Rupanya pemikiran Bung Karno dan Djamaluddin Adinegoro satu ordinat, mereka terus berdiskusi soal Kartografi yang intinya meletakkan Asia ditengah-tengah. Bung Karno berkata "Pak Adinegoro, saya paham Asia akan jadi pusat dunia, dan saya akan mengarahkan Indonesia jadi bangsa terkuat di Asia, Indonesia yang menyumbangkan bagi peradaban dunia, Indonesia menjadi bangsa yang mampu menciptakan kesejahteraan dunia, pusat budaya, pusat Ilmu Pengetahuan, itu obsesiku, lalu dengan meletakkan Indonesia ke dalam titik sentral Asia, dan menjadi Asia sebagai pusat dunia adalah fase awal dalam membentuk kesadaran 'bahwa kita ada'.

Itulah pesan Bung Karno pada Adinegoro, lalu Adinegoro mengajak kawannya Adam Bachtiar untuk menyusun Atlas dengan Asia sebagai pusatnya, pada tahun 1952 peta itu selesai dan diserahkan pada Bung Karno, penerbit Peta itu adalah Penerbitan 'Djambatan Amsterdam' yang kemudian namanya menjadi singkat saja 'Penerbit Djambatan'. Bung Karno memerintahkan Peta terbitan Djambatan itu digunakan resmi di sekolah-sekolah, kantor negara dan umum. Lalu peta itu menyebar, setelah pamor Bung Karno naik di Konferensi Asia Afrika, Peta versi Djambatan ini ditiru banyak bangsa di dunia.

Sejak itulah peta yang menggunakan Asia sebagai pusatnya paling banyak digunakan diseluruh dunia, Peta versi Penerbit Djambaran. Hanya Amerika Serikat yang masih menggunakan Peta dengan menempatkan Amerika Serikat sebagai pusat dunia, lain negara menggunakan peta yang hampir persis dengan penerbit Djambatan ini.

Inilah peran Bung Karno di masa lalu, inilah mimpi bangsaku di masa lalu, dan ketika di hari-hari ini Indonesia dipertontonkan oleh para politisi maling di Pengadilan, mereka yang maling dan berdebat di televisi-televisi, betapa malunya kita kalau kita sadar sejarah, bahwa bangsa Indonesia dibentuk oleh manusia-manusia bervisi raksasa, idealisme dan besar kemudian diperintah dan dipimpin sebarisan maling yang saling berdebat memamerkan kepandaian mereka mencuri uang negara di depan mata rakyat, seraya rakyatnya kelaparan dan BBM dinaikkan tanpa pembelaan negara berjuang memberikan subsidi.........

Jadi jika anda melihat TV dan mendengarkan radio bagaimana maling berdebat, palingkanlah mata anda ke Atlas dunia, disitu kita pernah punya mimpi Indonesia sebagai bangsa besar.

Bung Karno dan Politik Minyak Kita




"Jangan Dengarkan Asing..!!"

Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, "Elu ada, gue ada" kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking. Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. "Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya" kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956. Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia "Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang" teriak Bung Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

"Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang" Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata "Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee....joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak...inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri".

Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tampa Moskow, tampa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak "Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak" urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). "Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara". Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata "Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia". Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai "Let Alone Agreement" yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan. Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno "Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia" mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu Sukarno berkata dengan suara keras :"Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!" waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh. Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia. Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai 'Dana Revolusi Sukarno". Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia, suatu hari saat Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : "Generaal Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik" begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad. Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan, Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak, inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal, bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya, ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato didepan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang, ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia, ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya. Andai Indonesia berdaulat energinya, Pertamina menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia dan menjadi perusahaan modal yang mengakusisi banyak perusahaan di dunia maka minyak Indonesia tak akan semahal sekarang, rakyat yang dicekik terus menerus.

Pada Bung Karno, hendaknya jalannya sejarah Indonesia harus dikembalikan.


ANTON DH NUGRAHANTO.

Bung Karno Yang Sadar Kamera


Pada waktu Belanda menerjunkan ribuan pasukan Marinir dan pasukan infanteri ke Yogyakarta Desember 1948, terjadi pertengkaran kecil antara Bung Karno dan Jenderal Sudirman. Saat itu Bung Karno lebih memilih ditawan untuk memancing Belanda berunding dan memancing kemarahan Internasional, tapi Sudirman yang saat itu sudah terpengaruh dengan pikiran 'perang total' Tan Malaka menghendaki Bung Karno untuk ikut masuk hutan dan gerilya dengan Sudirman. Bung Karno menolak, pertimbangannya kalau gerilya pasti ketangkep juga, karena prinsip dari dulu bagi Sukarno adalah selalu 'hadir' ditengah mata rakyatnya dan mata dunia. "Ia tak boleh menghilang".

Selain itu Jawa bukan seperti Cina daratan, seluruh pulau ini dikelilingi laut, kalau Cina daratan gerilya gampang, bisa lari ke Sovjet Uni atau lari ke India. Tapi kalau Jawa lari ke perbatasan ya nyemplung laut, begitulah pikir Bung Karno.

Sudirman yang masih hijau politiknya dan agak tak mengerti 'taktik' politik Bung Karno marah besar. Ia merasa pemimpin di Yogyakarta merusak kepercayaan rakyat. Disinilah aroma perpecahan terjadi.

Tapi ternyata dibuktikan apa omongan Sukarno benar, di PBB Belanda dikeroyok habis negara-negara yang mendukung Indonesia. Nehru sampai menggebrak meja podium berkali-kali dan berteriak pada delegasi Belanda, di Australia kaum buruh mogok total, pelabuhan-pelabuhan di boikot. Di New York sebarisan kaum buruh berdemo meminta Indonesia dibebaskan dari Belanda. Sementara pejabat AS sudah mengantongi surat dukungan Presiden AS untuk membela Indonesia dari Belanda, pesannya singkat "kita dukung Indonesia, jangan sampai keduluan Stalin"

Belanda akhirnya dipaksa mundur, Amerika Serikat mengancam akan menutup dompet Marshall dan tidak mau bantu Belanda lagi apabila dana pajak orang Amerika dipakai untuk beli Mitraliyur NICA, akhirnya Belanda menyerah, agar tak kehilangan muka di antara negara-negara lain, Belanda minta ganti rugi dan Irian Barat tetap dijadikan negara koloni sampai pada waktunya nanti diserahkan pada Indonesia.

Sukarno menang, tapi tidak bagi Sudirman. Ia masih marah. Akhirnya Sukarno memanggil Rosihan Anwar untuk menjemput Sudirman di hutan, sebelumnya beberapa surat sudah dilayangkan ke Sudirman sampai terakhir surat dari Sultan Hamengkubuwono IX, tapi Sudirman masih saja kepala batu. Sukarno tak hilang akal, dipakailah anak buah kesayangan Sudirman yaitu : Letkol Suharto untuk jemput Sudirman.

Pak Dirman senang dengan Letkol Suharto karena cara Jawa-nya yang amat halus. Tidak seperti serdadu revolusioner yang lain dengan gaya kebarat-baratan dan agak urakan, Suharto sangat mriyayeni, sangat halus tutur katanya. Inilah yang bikin Sudirman suka, setiap ucapan Suharto kepada Pak Dirman selalu didahului :Nyuwun Duko (minta dimarahi). Taktik Sukarno benar dengan menyuruh Letkol Suharto, Dirman menurut.

Rosihan Anwar membawa Frans Mendur, ahli potret dari IPPHOS. Juga tukang potret kesayangan Bung Karno. "Nanti kalo Dirman datang, kamu potret yang bagus" kata Bung Karno. Frans Mendur mengangguk.

Lalu datanglah Sudirman ke Gedung Agung, tempat tinggal Bung Karno. Dirman berdiri saja di pojokan, ia kaku, perasaannya masih marah. Tapi bukan Sukarno namanya yang mampu mencairkan suasana, ia mampu membuat Dirman tertunduk dan merasa hormat pada Sukarno yang lagak lagunya seperti bintang Tonil tahun 1930-an.

Sukarno datang sendiri ke Dirman dan memeluknya, tapi Dirman masih kaku, setelah memeluk Sudirman, Bung Karno melihat ke arah Frans Mendur dan berkata cepat "Dapet nggak sentuhannya?"

Frans Mendur menggeleng dan menyahut "Terlalu cepat"

"Ya udah diulang lagi, adegan zoetnjes-nya" (zoentjes =ciuman)...
kata Bung Karno, lalu Bung Karno memanggil Sudirman agar mendekat. "Ayo supaya lebih dramatik" entah kenapa Dirman menurut saja bagai bintang iklan yang sedang disuruh sutradara.

Akhirnya momen pelukan Bung Karno dan Pak Dirman jadi foto paling terkenal sebagai 'Foto penutup perang Revolusi 1945-1949'.

Taktik kamera Bung Karno ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa tak ada isu kudeta militer yang akan memberontak pada pemerintah karena penolakan KMB 1949, sekaligus menunjukkan pada pasukan mbalelo penolak KMB yang masih di hutan bahwa militer sudah bersatu dengan pemerintah dibawah komando Sukarno dengan perasaan haru.

Sukarno mampu secara efektif menggerakkan sebuah gambar sebagai bagian penggerakkan alam pikiran bahwa sadar psikologi massa. Karena bagaimanapun sejak masih di HBS (sekarang SMA) Sukarno adalah seorang sutradara, lakon pentas pertama kali yang ia bawakan adalah lakon komedi. Andai Bung Karno nggak diajarin politik sama Tjokroaminoto mungkin Bung Karno akan bekerja sebagai fotografer atau sutradara film.

Sejarah selalu menceritakan banyak hal........

ANTON DH NUGRAHANTO

Sukarno Bukan Mitos Tapi Pemikiran....!!


Salah satu kesalahan terbesar Sukarno adalah ia terlalu tebar pesona, terlalu punya daya tarik kharismatis, sehingga jutaan orang hanya melihat personifikasi Sukarno, bukan alam pikiran Sukarno. Tebar pesona Sukarno inilah yang kemudian melahirkan mitos-mitos omong kosong.

Padahal alam pikiran Sukarno, adalah alam pikiran puncaknya manusia Indonesia baru, ia mampu menjangkau masa depan peta ekonomi politik dunia dengan analisa Geopolitiknya, ia bisa membangun strategi dasar pengembangan manusia secara rinci lewat tatanan yang disebut ideologi Pancasila yang bila ditelaah Pancasila adalah sebuah rangkaian step by step tentang sejarah perkembangan pendewasaan pikiran dan hati manusia yang dikorelasikan dengan perkembangan sejarah masyarakat, ketika Marx hanya berpusar pada sejarah masyarakat dan letak inti sejarah masyarakat, Sukarno lebih dalam lagi ia masuk ke dalam alam manusia dan bagaimana manusia bereaksi terhadap sejarah masyarakat, karena kepandaian menganatomi itulah Sukarno dengan pandai menggerakkan arah sejarah dunia, bahkan JF Kennedy secara terang-terangan mengaku di depan kabinetnya bahwa dia berguru pada Sukarno dan menggebrak meja pada CIA yang ingin mengerjai Sukarno, di bawah pengaruh Sukarno pula Kennedy mendirikan Peace Corps sebagai cikal bakal gerakan perdamaian yang digerakkan pemuda Internasional. Salah seorang anggota Peace Corps adalah Bill Clinton salah seorang yang nantinya jadi Presiden Amerika Serikat.

Bung Karno juga memberikan sodoran tentang pergolakan sejarah yang menuju pada ekonomi Asia Pasifik. Bagi Sukarno, ini ia tulis di tahun 1930-an dalam surat kabar di Bandung, dengan nama samaran Bima. "Bahwa Asia-Pasifik akan jadi pusat-nya dunia, perang lautan teduh adalah babak pembuka Kemerdekaan Asia Raya. Kelak Eropa hanya jadi benua tua yang sakit-sakitan sementara Asia Pasifik akan tumbuh bak gadis molek yang menghantui setiap pikiran lelaki" disini Sukarno sudah meletakkan pandangan geopolitiknya yang amat menjangkau masa depan. Terbukti sekarang Asia Pasifik jadi rebutan antara Amerika Serikat dan Cina, dan perang beneran kemungkinan akan meletus karena Cina sudah memperkuat armadanya di laut Nanyang (Laut Selatan Cina) sementara Amerika Serikat sudah membuka armada siap tempur di Darwin Australia.

Padahal Bung Karno sudah mempersiapkan Indonesia menjadi negara dengan kekuatan armada laut terbesar di Asia Pasifik, ia akan menjadikan Biak sebagai "Armada Laut tanpa tanding" di Asia Pasifik itu obsesi utama Bung Karno, karena obsesi inilah KKO di Indonesia menganggap Sukarno seperti separuh dewa, banyak orang KKO yang bertaruh mati membela Sukarno saat Bung Karno ditikam Harto di tahun 1966-an termasuk Letjen KKo Hartono yang mati misterius dan namanya kini menjadi nama jalan utama di Markas Marinir Indonesia di Cilandak Jakarta Selatan. Atau dua serdadu KKO yang digantung Lee Kuan Yew di Singapura, rela digantung demi keagungan nama bangsanya di depan dunia Internasional.

Bung Karno juga adalah pioneer terhadap perkembangan pemikiran revolusi di Amerika Latin. Mustahil bagi Castro berani memberontak tanpa membaca sejarah pembebasan negara-negara kolonial tanpa membaca apa yang terjadi di Asia. Castro membaca pergerakan kemerdekaan di Indonesia saat ia bersekolah di New York tahun 1947, kepindahan Castro ke New York karena ia menghindari kejaran orang-orang Rafael Trujillo dari Dominika karena Castro berusaha menggulingkan klan Trujillo dari Dominika. Di New York ia hanya menghabiskan waktu membaca buku-buku dan jurnal politik, salah satu yang menjadi minatnya setiap kali ke perpustakaan New York adalah membaca jurnal yang dibuat ahli riset Cornell tentang berita perkembangan revolusi di Indonesia, Castro dengan mata kepalanya sendiri melihat demonstrasi di selasar pertokoan New York kaum buruh Amerika berdemo menuntut kemerdekaan Indonesia.

Suatu saat Castro membeli majalah LIFE dan membaca profil Sukarno, disini ia kemudian terobsesi pada Sukarno. Sama seperti Sukarno, Castro bisa berjam-jam lamanya pidato. "Anda-lah yang membuka mata kepala saya tentang arti Revolusi, tentang bagaimana dunia bergerak menuju pembebasan manusia, anda-lah orang yang dari jauh mengajari saya bagaimana memimpin manusia untuk sadar akan pembebasan dirinya" kata Castro di tahun 1960 saat Bung Karno mengunjungi Kuba.

Pada tahun 1961 JF Kennedy mengalami kesalahan fatal karena mengikuti nasihat politik orang-nya Eisenshower yang kepala batu soal Kominis, mereka menyarankan Kennedy mempersenjatai Imigran Kuba dengan senjata lengkap dan dibantu pasukan khusus Amerika Serikat. Gerakan itu diberi kode namanya 'Operation Mongoose' atau kemudian dikenal sebagai 'Invasi Teluk Babi'. Gerakan ini dirancang sangat rapi, tapi entah kenapa salah seorang petinggi militer salah ucap sehingga seorang wartawan AS menulis sebuah artikel yang memuat kemungkinan rencana serangan itu. Castro membaca dan mengantisipasinya. Operasi Teluk Babi adalah operasi kegagalan militer yang amat memalukan, untuk ngilangin malu Kennedy mempersiapkan misil-nya di Turki dan mengarahkan ke Sovjet Uni. Kesal dengan tindakan AS itu, Moskow mengirimkan beberapa puluh rudal berhulu nuklir ke Kuba dan mengarahkannya ke Amerika Serikat. Tak banyak yang tau bahwa yang repot disini adalah orang Indonesia bernama Subandrio yang saat itu bertugas Menteri Luar Negeri merangkap sebagai Waperdam, Sukarno memerintahkan Bandrio untuk membuka saluran telpon langsung baik ke Khruschev, Castro dan Kennedy. Lobi-lobi Sukarno ini sedikit banyak meredam konflik misil nuklir yang dipasang di Turki dan Kuba. Tapi ini yang dikerjakan Sukarno sangat rahasia, karena baik Sovjet Uni maupun Amerika Serikat hanya menarik senjata misil bukan menghentikan konflik, tapi tanpa pengaruh Sukarno maka rakyat seluruh dunia akan bersembunyi di bunker-bunker baja, peradaban dunia hancur total, mungkin banyak orang yang berusia lanjut masih mengingat tentang krisis nuklir itu.

Kennedy berterima kasih pada Sukarno, dan menjadi sahabat Sukarno paling dekat. Pikiran-pikiran Sukarno tentang Internasionalisme diterjemahkan dengan menitikberatkan aspek kemanusiaan, lalu sejak itu pandangan Partai Demokrat selalu berbasis pada soal kemanusiaan, HAM dan kebebasan manusia beda dengan Partai Republik yang cenderung berpandangan politik konservatif.

Inilah secuplik pikiran raksasa Sukarno dan pengaruhnya bagi dunia Internasional, perkara Sukarno senang main perempuan, senang bernyanyi walaupun suaranya sember, mampu berpidato dan membuat jutaan orang mematung mendengarkan pidatonya dalam panas dan hujan, atau seluruh kota dan kampung sepi menunggu pidato Sukarno itu adalah soal lain, soal pesona dan banyak orang Indonesia hanya terjebak pada pesona Sukarno saja, lalu menjadikan Sukarno dewa tanpa isi, menjadikan Sukarno sejarah tanpa pemikiran, tapi hanya puja dan puji yang tak jelas. Begitu juga mereka yang berpikiran kecil, yang tak pernah sekalipun membaca detil pemikiran Sukarno, membaca dialektika dunia saat itu, zeitgeist dunia saat itu, hanya terjebak pada personifikasi Sukarno dengan komentar amat rendahan. Mencaci maki Sukarno sebatas fisik dan prasangka akan kediktatorannya.

Padahal untuk membaca tokoh sejarah, pertama-tama harus membaca alam pikirannya, lalu alam tindakan. Tanpa kedua itu kita terjebak pada alam personifikasi, seperti hal-nya kita hanya menyukai senyum Suharto tanpa melihat substansi kekuasaan Suharto, melihat gairah Bung Karno yang doyan perempuan tanpa melihat substansi arah kekuasaa Sukarno, melihat tangis SBY tanpa melihat substansi kekuasaan SBY arahnya kemana.

Ketika kita berpikiran kecil dan dungu, maka kita hanya senang melihat lukisan Sukarno yang jantungnya berdegup-degup di Blitar, sampai ribuan orang mengantri untuk melihat lukisan itu, ketimbang di sekolah-sekolah dan fakultas-fakultas politik, ekonomi, Sosial dan Budaya membuat kurikulum tersendiri soal "Pemikiran Sukarno".

Sudah saatnya generasi muda dikenalkan pemikiran Sukarno, bukan mitos Sukarno. Karena pemikiran Sukarno adalah yang menggerakkan sejarah seperti Castro menumbangkan Batista, ataupun Kennedy membentuk Peace Corps ketimbang Mitos Sukarno yang hanya memenuhi ruangan dengan dupa, asap menyan dan lukisan Sukarno setinggi dua meter.

Sukarno bukan Mitos, tapi Pemikiran...!!

ANTON DH NUGRAHANTO
Copyright © 2013.TOTO CALEG PDIP - Posts · Comments
Theme Template by Bang Jali · Powered by Blogger